(1 Matrix 44:51)

Saat dunia melihat diriku, ia tidak melihatku. Ia tidak melihatku apa yang ada dalam diriku. Ia hanya melihat imaji yg kuproyeksikan. Ia melihat imaji yg kuproyeksikan. Ia melihat imaji yang terproyeksikan pada diriku. Mungkin dibutuhkan lebih banyak lagi penjelasan utk hal-hal berikut ini. Dibanding untuk harus memaki kepada kekosongan, sebaiknya memang ditempatkan disini sebuah kontainer bagi idea-idea yang terkumpul agar dapat tertumpah ruah dan menggenangi sesuatu… aku pikir aku telah memulai sebuah revolusi. Berbulan-bulan lalu, bertahun-tahun lalu. Saat aku keluar dari kamar mandi, setelah sekian banyak waktu yang terbuang untuk meratap dan berharap untuk dapat muncul dengan sesuatu untuk dilakukan dan diyakini; bagi aku, itulah alasan untuk terus hidup. Bukan berarti bahwa memang ada alasan untuk mati, tetap aku menginginkan sesuatu yg lebih. Selalu ada visi untuk tetap hidup, untuk mengisi kedalaman jiwa dalam semangat kata-kata aku… aku tak pernah mengklaim telah memiliki jawaban, tidak lagi. Aku justru memberikan lebih banyak pertanyaan atas pertanyaan yang ada, aku mencari lagi, lagi, lagi, lagi, dan lagi. Aku menginginkan alasan untuk hidup. Aku ingin sesuatu yg lebih dari sekadar eksistensi berkelanjutan sementara tak ada lagi yang dapat dilakukan. Aku ingin sesuatu yang lebih indah. Aku tetap bermimpi tentang akhir dunia. Telah nyaris satu minggu dimana aku terbangun dari mimpi dan teringat akan akhir dunia. Tak ada kepanikan, begitulah adanya. Berimajinasi bahwa dunia telah berakhir, kemana aku akan pergi pada momen-momen terakhir? Mengapa tidak aku berusaha untuk membangun sebuah tempat dimana aku akan dapat menjalani hidup aku sendiri, secara bersama-sama. Mengapa juga harus ada sesuatu hal yang menjadi harapan aku sebelum aku mati? Mengapa juga kematian datang hari ini? Aku hanya membutuhkan alasan untuk tetap melanjutkan hidupku.

("Apa yang harus kukatakan padanya? Apakah aku tahu alasan untuk hidup? Aku tidak sedepresif dirinya karena aku tidak berharap terlalu banyak. Aku lebih seperti… terkagum pada hidup ini, yang diberikan padaku–diberikan entah untuk apa" -Jean Paul Satre)

4 Responses to “(1 Matrix 44:51)”

  1. elpha Says:

    sesungguhnya manusia pasti akan diberitahu (entah oleh apa - seseorang atau sesuatu) tentang hidup. memang bukan kapasitasku sebagai manusia berpikir seperti itu (layaknya dewa). seseorang atau sesuatu itu akan terus berusaha memberi jawaban atas segala pertanyaan itu. manusia pasti akan tahu - intinya seperti itu.
    kepekaan atau sensitivitas akan berguna saat itu datang.

    manusia bisa disebut pe’sugesti yang ulung. menurutku, penyebab lahirnya pertanyaan adalah hal itu. imajinasi, sugesti, provokasi (dkk) menjadi aktor pada siklus pemikiran manusia. sedang sutradaranya adalah diri kita sendiri.
    salah satu pertanyaan favoritku, “sadarkah anda berimajinasi saat ini?”

    hidup adalah untuk dijalani,
    apalah hidup itu kalau tidak dijalani…
    aku tidak begitu berpikir-pikir tentang hidupku,
    aku mencoba melakukan sesuatu yang terbaik di ‘masa kerjaku’

    NB: berpikir secara netral

  2. elpha Says:

    kata-kata satre-nya keren.
    NB: satre adalah salah seorang penulis yang menolak hadiah nobel.

  3. BLacKcLoUd-aYe Says:

    Ttuely…
    read u’r note make me wanna know bout u more….
    SUMPAH NOT…

  4. Yusuf Says:

    ini tulisan terbaik dari isi blog ini. selamat!

Leave a Reply